Header Ads


Breaking News

Paroki St Petrus Wonosari Gelar Rasulan

MASYARAKAT di Gunungkidul setiap tahun merayakan tradisi Rasulan atau Bersih Desa yang juga sering disebut Merti Desa. Tradisi itu berasal dari masyarakat petani untuk mengucapkan syukur atas hasil panen selama setahun.  Rasulan dilaksanakan setelah panen raya atau menjelang musim kemarau. Sebagian besar desa-desa di Gunungkidul masih melaksanakan tradisi ini. 

Umat Katolik juga menjadi bagian dari masyarakat yang turut merayakan tradisi ini. Di Paroki St Petrus Wonosari,  wilayah dalam kota, umat banyak terlibat juga dalam melaksanakan tradisi ini. Walaupun mata pencaharian petani untuk umat dalam kota buka lagi satu-satunya namun akan ada yang kurang bila belum rasulan.  Pada bulan Agustus yang lalu beberapa wilayah dalam kota Paroki Santo Petrus Kanisius juga dilaksanakan tradisi rasulan. 

Saat rasulan biasanya digelar berbagai macam seni budaya seperti reog, jathilan dan wayang kulit dengan mengundang dalang dari luar wilayah. Rama Rosarius Sapto Nugroho Pr yang memimpin misa rasulan mengulas tentang makna budaya yang ingin dilestarikan masyarakat. 

“Sebagai masyarakat yang cedhag watu adoh ratu maka hendaknya  tetap menghidupi budaya wong ndeso,” katanya. 

Rama Sapto mengajak menghidupi budaya sebagai orang desa dimulai dari rumah. “Karena di Wonosari banyak tumbuh pohon jati maka daunnya bisa dipakai untuk pupuk, jangan hanya dibakar saja. Sehingga lama-kelamaan tanah semakin subur,” jelas Rama Sapto. * Heru Tricahyanto


TRADISI: MASYARAKAT di Gunungkidul setiap tahun merayakan tradisi Rasulan atau Bersih Desa yang juga sering disebut Merti Desa. Tradisi itu berasal dari masyarakat petani untuk mengucapkan syukur atas hasil panen selama setahun.  Rasulan dilaksanakan setelah panen raya atau menjelang musim kemarau. Sebagian besar desa-desa di Gunungkidul masih melaksanakan tradisi ini. 

Umat Katolik juga menjadi bagian dari masyarakat yang turut merayakan tradisi ini. Di Paroki St Petrus Wonosari,  wilayah dalam kota, umat banyak terlibat juga dalam melaksanakan tradisi ini. Walaupun mata pencaharian petani untuk umat dalam kota buka lagi satu-satunya namun akan ada yang kurang bila belum rasulan.  Pada bulan Agustus yang lalu beberapa wilayah dalam kota Paroki Santo Petrus Kanisius juga dilaksanakan tradisi rasulan. 

Saat rasulan biasanya digelar berbagai macam seni budaya seperti reog, jathilan dan wayang kulit dengan mengundang dalang dari luar wilayah. Rama Rosarius Sapto Nugroho Pr yang memimpin misa rasulan mengulas tentang makna budaya yang ingin dilestarikan masyarakat. 
“Sebagai masyarakat yang cedhag watu adoh ratu maka hendaknya  tetap menghidupi budaya wong ndeso,” katanya. 

Rama Sapto mengajak menghidupi budaya sebagai orang desa dimulai dari rumah. “Karena di Wonosari banyak tumbuh pohon jati maka daunnya bisa dipakai untuk pupuk, jangan hanya dibakar saja. Sehingga lama-kelamaan tanah semakin subur,” jelas Rama Sapto. * Heru Tricahyanto

No comments